BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pertumbuhan tergantung pada adanya pemasukan air ke
dalam sel yaitu pasokan air dari jaringan satu ke jaringan lainnya di suatu
lingkungan. Osmosis terjadi apabila suatu larutan dipisahkan oleh suatu selaput
yang permeabel oleh air. Tekanan osmosis merupakan tekanan yang mendorong air
untuk berdifusi. Osmosis juga merupakan proses fisika difusi (dengan osmosis
sebagai bagian khususnya) memainkan peranan yang sangat penting pada fisiologi
tumbuhan, sehingga pengertian yang jelas mengenai proses ini perlu sekali
dimiliki, tetapi agar mudah dimengerti, beberapa sifat umum materi harus
diperhatikan terlebih dahulu.
Jaringan adalah sekumpulan sel yang mempunyai struktur
dan fungsi yang sama. Plasmolisis suatu sel yang dapat digambarkan pada
plasmolisis sekumpulan sel dengan sifat-sifat yang sama. Partikel-partikel ini
mempunyai dua sifat yaitu kemampuan untuk bergerak bebas dan kecenderungan
untuk pertikel yang sama untuk tarik menarik. Kedua sifat ini sangat bertentangan.
Pada awal inspien plasmolisis air keluar dari vakuola
hal ini dapat dilihat dari mengkerutnya suatu jaringan keadaan ini bersifat
tidak dapat balik. Penyusutan akan berlangsung terus selama air yang hilang
akan lebih banyak dari sel yang berada pada larutan yng mempunyai potensi
osmosis yang tinggi. Sebagai perkiraan dapat dikatakan sebagai kecenderungan
untuk gerakan bebas lebih unggul, zat itu akan berada dalam bentuk gas, jika
kecenderungan untuk gaya tarik lebih unggul zat itu akan berada dalam bentuk
padat. Sedangkan jika kedua kecenderungan itu kira-kira sama kuat, zat itu akan
berada dalam bentuk zat cair.
Ada dua faktor penting yang menentukan apakah suatu
zat tertentu berkelakukan sebagai zat padat, zat cair, ataupun gas yaitu
mobilitas dasar suatu zat (misalnya partikel oksigen sangat bersifat mobil,
sedangkan sangat saling berikatan kuat) dan suatu suhu itu (misalnya penggunaan
panas dapat mengubah zat cair menjadi gas dengan meningkatkan kemampuan gerakan
bebas partikel gas itu).
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan
Tekanan Osmosis?
2.
Apa saja rumus yang
digunakan dalam Tekanan Osmosis?
3.
Apa saja contoh penerapan tekanan
osmosis dalam kehidupan sehari-hari?
1.3 Tujuan
Penulisan
Penyusunan
makalah ini ditujukan untuk:
1.
Untuk memenuhi tugas Kimia Fisika.
2.
Untuk menambah wawasan mengenai tekanan
osmosis.
3.
Untuk mengetahui rumus apa saja yang digunakan
pada tekanan osmosis.
4.
Untuk mengetahui contoh
tekanan osmosis dalam kehidupan sehari-hari.
1.4 Metode
Penulisan
Metode penulisan
makalah ini didasarkan pada gabungan dari beberapa literatur dan pencarian data
melalui media internet.
1.5 Manfaat Penulisan
Agar
pembaca mengetahui lebih dalam tentang Tekanan Osmosis dan aplikasi tekanan osmosis serta contoh penerapan tekanan
osmosis dalam kehidupan dalam sehari-hari.
BAB II
ISI
2.1
Pengertian Tekanan Osmosis
Osmosis adalah
proses perpindahan larutan yang memiliki konsentrasi rendah melalui membran
semipermeabel menuju larutan yang memiliki konsentrasi lebih tinggi hingga
tercapai kesetimbangan konsentrasi. Pada proses osmosis, molekul-molekul
pelarut bermigrasi dari larutan encer ke larutan yang lebih pekat hingga
dicapai keadaan
Proses osmosis
Tekanan
yang
diterapkan untuk menghentikan proses osmosis dari larutan encer atau pelarut
murni ke dalam larutan yang lebih pekat dinamakan tekanan osmotik larutan,
dilambangkan dengan π.
Osmosis
merupakan difusi air melintasi membran semipermeabel dari daerahdimana air
lebih banyak ke daerah dengan air yang lebih sedikit. Osmosis sangat ditentukan
oleh potensial kimia air atau potensial air, yang menggambarkan kemampuan
molekul air untuk dapat melakukan difusi. Sejumlah besar volume air akan
memiliki kelebihan energi bebas daripada volume yang sedikit, di bawah kondisi
yang sama. Energi bebas zuatu zat per unit jumlah, terutama per berat
grammolekul (energi bebas mol-1) disebut potensial kimia. Potensial kimia zat
terlarut kurang lebih sebanding dengan konsentrasi zat terlarutnya. Zat
terlarut yang berdifusi
cenderung untuk bergerak dari daerah yang berpotensi kimia lebih
tinggi menuju daerah yang berpotensial kimia lebih kecil (Ismail, 2006).
Osmosis
adalah difusi melalui membran semipermeabel. Masuknya larutan kedalam sel-sel
endodermis merupakan contoh proses osmosis. Dalam tubuh organisme multiseluler,
air bergerak dari satu sel ke sel lainnya dengan leluasa. Selain air, molekul-molekul
yang berukuran kecil seperti O2 dan CO2 juga mudah melewati membran sel. Molekul-molekul
tersebut akan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi
tinggi ke konsentrasi rendah. Proses Osmosis akan berhenti jika konsentrasi
zat di kedua sisi membran tersebut telah mencapai keseimbangan(Anonim, 2009).
Struktur
dinding sel dan membran sel berbeda. Membran memungkinkan molekul
air melintas lebih cepat daripada unsur terlarut; dinding sel primer biasanya sangat
permeable terhadap keduanya. Memang membran sel tumbuhanmemungkinkan
berlangsungnya osmosis, tapi dinding sel yang tegar itulah yang menimbulkan
tekanan. Sel hewan tidak mempunyai dinding, sehingga bila timbul tekanan
didalamnya, sel tersebut sering pecah, seperti yang terjadi saat sel darah merah
dimasukkan dalam air. Sel yang turgid banyak berperan dalam menegakkan tumbuhan
yang tidak berkayu (Salisbury, 1995).
Prinsip
osmosis: transfer molekul solvent dari lokasi hypotonic (potensirendah)
solution menuju hypertonic solution, melewati membran. Jika lokasi hypertonic
solution kita beri tekanan tertentu, osmosis dapat berhenti, atau malah
berbalik arah (reversed osmosis).Besarnya tekanan yang dibutuhkan untuk
menghentikan osmosis disebut sebagai osmotic press.
Jika dijelaskan sebagai konsep termodinamika,
osmosis dapat dianalogikan sebagai proses perubahan entrropi. Komponen
solvent murni memiliki entropi rendah, sedangkan komponen berkandungan
solut tinggi memiliki entropi yg tinggi juga. Mengikuti Hukum TermoII: setiap
perubahan yang terjadi selalu menuju kondisi entropi maksimum, makasolvent akan
mengalir menuju tempat yg mengandung solut lebih banyak, sehingga total
entropi akhir yang diperoleh akan maksimum. Solvent
akan kehilangan entropi, dan solut akan menyerap
entropi. "Orang miskin akan semakin miskin, sedang yang kaya
akan semakin kaya". Saat kesetimbangan tercapai, entropi akan maksimum,
ataugradien (perubahan entropi terhadap waktu) = 0. Ingat: pada titik ekstrim,
dS/dt = 0(Wibosono, 2009).
Osmosis Balik
Proses
osmosis suatu larutan dapat dihentikan. Proses osmosis juga bahkan dapat
dibalikkan arahnya dengan menerapkan tekanan yang lebih besar dari tekanan
osmosis larutan. Proses ini dinamakan osmosis
balik. Osmosis balik berguna dalam desalinasi (penghilangan garam) air
laut untuk memperoleh air tawar dan garam dapur.
(a) Alat desalinasi air laut melalui osmosis balik.
(b) Alat desalinasi tersusun atas silinder-silinder yang dinamakan permeator, yang mengandung jutaan serat berongga kecil.
(c) Dengan adanya tekanan, air laut masuk ke dalam permeator dan masuk ke dalam serat berongga sehingga ion-ion garam dapat dipisahkan dari air laut.
(b) Alat desalinasi tersusun atas silinder-silinder yang dinamakan permeator, yang mengandung jutaan serat berongga kecil.
(c) Dengan adanya tekanan, air laut masuk ke dalam permeator dan masuk ke dalam serat berongga sehingga ion-ion garam dapat dipisahkan dari air laut.
Penerapan
tekanan dari luar yang melebihi nilai π menyebabkan terjadinya osmosis balik.
Pada proses desalinasi, molekul-molekul air keluar dari larutan meninggalkan
zat terlarut. Membran yang dapat digunakan untuk proses osmosis balik adalah
selulosa asetat. Membran ini dapat dilewati oleh molekul air, tetapi tidak
dapat dilewati oleh ion-ion garam dari air laut.
2.2 Rumus
Menghitung Tekanan Osmosis
Tekanan
osmotik larutan berbanding lurus dengan konsentrasi molar zat. Dalam bentuk
persamaan dapat ditulis sebagai berikut.
π
≈ M atau π = k.M
k adalah tetapan kesetaraan yang
bergantung pada suhu. Untuk larutan encer harga k sama dengan RT, dimana
R tetapan gas dan T adalah suhu mutlak.
Oleh karena kemolaran memiliki satuan
mol per liter larutan, maka tekanan osmotik larutan dapat dinyatakan sebagai
berikut.
Keterangan:
π = Tekanan osmotik
M = Molaritas larutan
V =
Volum larutan (dalam liter)
R = Tetapan gas (0,082
L atm/mol.K)
T = Suhu (K)
Contoh :
Menentukan Tekanan
Osmotik larutan, berapakah tekanan osmotik larutan yang dibuat dari 18 g glukosa
yang dilarutkan ke dalam air hingga volume larutan 250 ml? Diketahui suhu
larutan 27°C dan R = 0,082 L atm mol–1 K–1.
Jawab:
Jumlah mol C6H12O6
Jumlah mol C6H12O6
Tekanan osmotik larutan: π=(n/V) RT
π = 0,1mol/0,25L × 0,082 L atm mol–1 K–1× 300 K
= 9,84 atm
Jadi, tekanan osmotik larutan sebesar 9,84 atm
2. 3 Penerapan Tekanan Osmosis dalam Kehidupan Sehari-hari
·
Mengontrol Bentuk Sel
Jika dua buah larutan yang dipisahkan oleh membran semipermeabel
memiliki tekanan osmotik sama, kedua larutan tersebut isotonik satu dengan yang
lainnya. Jika salah satu larutan memiliki tekanan osmotik lebih besar dari
larutan yang lain, larutan tersebut dinamakan hipertonik. Jika larutan memiliki
tekanan osmotik lebih kecil daripada larutan yang lain, larutan tersebut
dinamakan hipotonik. Tekanan osmosik memainkan peranan penting dalam sistem
hidup. Misalnya, dinding sel darah merah berfungsi sebagai membran
semipermeabel terhadap pelarut sel darah merah. Penempatan sel darah merah
dalam larutan yang hipertonik relatif terhadap cairan dalam sel menyebabkan
cairan sel keluar sehingga mengakibatkan sel mengerut.
Proses pengerutan sel seperti ini disebut krenasi. Penempatan sel darah
dalam larutan yang hipotonik relatif terhadap cairan dalam sel menyebabkan
cairan masuk ke dalam sel sehingga sel darah merah akan pecah. Proses ini
dinamakan hemolisis.
Seseorang yang membutuhkan pengganti cairan tubuh, baik melalui infus maupun
meminum cairan pengganti ion tubuh harus memperhatikan konsentrasi cairan infus
atau minuman. Konsentrasi cairan infus atau minuman harus isotonik dengan
cairan dalam tubuh untuk mencegah terjadi krenasi atau hemolisis.
·
Mesin Cuci Darah
Pasien
penderita gagal ginjal harus menjalani terapi cuci darah. Terapi menggunakan
metode dialisis, yaitu proses perpindahan molekul kecil-kecil seperti urea
melalui membran semipermeabel dan masuk ke cairan lain, kemudian dibuang.
Membran tak dapat ditembus oleh molekul besar seperti protein sehingga akan
tetap berada di dalam darah.
·
Pengawetan Makanan
Sebelum teknik pendinginan untuk
mengawetkan makanan ditemukan, garam dapur digunakan untuk mengawetkan makanan.
Garam dapat membunuh mikroba penyebab makanan busuk yang berada di permukaan
makanan.
·
Membasmi Lintah
Garam dapur dapat membasmi hewan
lunak, seperti lintah. Hal ini karena garam yang ditaburkan pada permukaan
tubuh lintah mampu menyerap air yang ada dalam tubuh sehingga lintah akan
kekurangan air dalam tubuhnya.
·
Penyerapan Air oleh Akar
Tanaman
Tanaman
membutuhkan air dari dalam tanah. Air tersebut diserap oleh tanaman melalui
akar. Tanaman mengandung zat-zat terlarut sehingga konsentrasinya lebih tinggi
daripada air di sekitar tanaman sehingga air dalam tanah dapat diserap oleh
tanaman.
·
Desalinasi Air Laut Melalui
Osmosis Balik
Osmosis
balik adalah perembesan pelarut dari larutan ke pelarut, atau dari larutan yang
lebih pekat ke larutan yang lebih encer. Osmosis balik terjadi jika kepada
larutan diberikan tekanan yang lebih besar dari tekanan osmotiknya.
Osmosis
balik digunakan
untuk membuat air murni dari air laut. Dengan memberi tekanan pada permukaan
air laut yang lebih besar daripada tekanan osmotiknya, air dipaksa untuk
merembes dari air asin ke dalam air murni melalui selaput yang permeabel untuk
air tetapi tidak untuk ion-ion dalam air laut. Tanpa tekanan yang cukup besar,
air secara spontan akan merembes dari air murni ke dalam air asin.
Penggunaan
lain dari osmosis balik yaitu untuk memisahkan zat-zat beracun dalam air limbah
sebelum dilepas ke lingkungan bebas.
2.4 Gejala Osmosis
Gejala osmosis
(dari kata yunani: "mendorong") adalah perjalanan pelarut murni ke
dalam larutan, yang keduanya dipisahkan oleh membran semipermeabel, yaitu
membran yang dapat diserapi oleh pelarut tetapi tidak oleh zat terlarutnya,
yang mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membran. Osmosis adalah
perpindahan molekul pelarut secara netto melalui membran semipermeabel dari
pelarut murni ke larutan yang memiliki konsentrasi lebih besar (mengandung zat
terlarut) sampai laju aliran molekul pelarut murni ke larutan sama dengan laju
aliran molekul pelarut dalam larutan ke pelarut murni.
Pada gambar
diatas, wadah kiri diisi oleh pelarut murni (misal air) dan bagian kanan diisi
oleh larutannya (misal larutan gula). Kedua bagian dipisahkan oleh suatu
membran semipermeabel (misal membran selofan), yaitu membran yang permeabel
terhadap molekul pelarut dan impermeabel terhadap molekul terlarut. Jadi
molekul air (baik dari larutan maupun pelarut murni) dapat melewati membran
tersebut, sedangkan molekul-molekul gula tidak dapat melewatinya.
Salah satu
percobaan yang dapat membuktikan pernyataan diatas adalah dengan proses
osmosis, misalnya memisahkan air dan larutan gula menggunakan membran
semipermeabel. Sebelum proses osmosis terjadi wadah kiri (air) tidak berasa,
wadah kanan (larutan gula) berasa sangat manis, dan permukaan cairan di kedua
bagian sama tinggi, tetapi seiring bertambahnya waktu permukaan larutan gula
naik sampai ketinggian tertentu dan ketika dicapai kesetimbangan tidak terjadi
pertambahan ketinggian pada permukaan cairan di wadah kanan. Rasa pada wadah
kiri (air) tetap tidak berasa karena tidak ada molekul gula yang dapat melewati
membran semipermeabel untuk masuk ke wadah kiri sehingga dalam wadah kiri hanya
terdapat molekul air sedangkan pada wadah kanan (larutan gula) rasanya menjadi
kurang manis dari keadaan semula karena terjadi penambahan molekul air yang
berasal dari wadah kiri yang dapat melewati membran semipermeabel sehingga
dalam wadah kanan terdapat molekul gula yang jumlahnya tetap dan molekul air
yang jumlahnya bertambah yang mengakibatkan konsentrasi larutan gula menjadi lebih rendah.
Perbedaan
ketinggian pelarut dan larutannya sebesar h, perbedaan ketinggian ini
menyebabkan adanya tekanan hidrostatik dalam larutan yang disebut dengan
tekanan osmosis dari larutan.
Selain pada kejadian diatas,
peristiwa osmosis juga dapat terjadi pada dua larutan dengan konsentrasi
berbeda yang dipisahkan oleh membran semipermeabel, seperti pada gambaran
berikut.
Dalam kasus diatas
C1>C2>C3>C4 dan perbedaan ketinggian hB<hC<hD<hA. Perbedaan
ketinggian ini menunjukan tekanan osmosis pada A>D>C>B. Semakin pekat
suatu larutan maka potensial kimia larutan tersebut semakin kecil dibandingkan
pelarut murni.
Dalam proses osmosis A, perpindahan pelarut secara netto berlangsung dari arah pelarut murni ke dalam larutannya. Hal ini dapat ditinjau dari potensial kimia pelarut di kedua fasa, yaitu pada pelarut murni dan pada larutannya. Jadi potensial kimia pelarut murni lebih besar daripada potensial kimia pelarut dalam larutan. Oleh karena itu laju pelarut murni ke larutan melalui membran semipermeabel lebih besar dibandingkan laju pelarut dari larutan ke pelarut murni yang berharga sangat-sangat kecil. Peristiwa osmosis berakhir saat tercapai kesetimbangan di kedua fasa.
Dalam proses osmosis A, perpindahan pelarut secara netto berlangsung dari arah pelarut murni ke dalam larutannya. Hal ini dapat ditinjau dari potensial kimia pelarut di kedua fasa, yaitu pada pelarut murni dan pada larutannya. Jadi potensial kimia pelarut murni lebih besar daripada potensial kimia pelarut dalam larutan. Oleh karena itu laju pelarut murni ke larutan melalui membran semipermeabel lebih besar dibandingkan laju pelarut dari larutan ke pelarut murni yang berharga sangat-sangat kecil. Peristiwa osmosis berakhir saat tercapai kesetimbangan di kedua fasa.
Keadaan
kesetimbangan tercapai ketika laju aliran molekul dari pelarut murni sama
dengan laju aliran molekul pelarut dari larutannya. Hal ini diperoleh melalui
perbedaan tekann hidrostatik di kedua bagian wadah. Adanya tekanan ekstra ini
akan meningkatkan potensial kimia pelarut dalam larutannya sampai potensial
kimia pelarut dalam larutan sama dengan potensial kimia pelarut murninya, μA =
μA*.
Proses
osmosis juga terjadi pada B, C, dan D. Perpindan pelarut secara netto
berlangsung dari arah pelarut dalam larutan yang lebih rendah konsentrasinya ke
dalam larutan yang lebih pekat konsentrasinya sampai dicapai keadaan
kesetimbangan di kedua sisi/bagian wadah. Ditinjau dari potensial kimia pelarut
dalam larutan dibandingkan dengan potensial kimia pelarut murni menunjukan
μC1<μC2<μC3<μC4<μA*.
Besaran Π
disebut dengan tekanan osmosis, yaitu tekanan yang harus diterapkan pada
larutan untuk mengingkatkan potensial kimia pelarutnya sampai pada nilai
potensial kimia cairan pelarut murninya pada 1 atm. Saat kesetimbangan
harus dipenuhi kriteria kesetimbangan, dalam hal ini potensial kimia pelarut
dalam larutan (pada suhu T dibawah tekanan P) sama dengan potensial kimia
pelarut dalam larutan (pada suhu T dibawah tekanan P+ Π):μ(T,P+Π) = μ*(T,P)
Oleh karena membran bersifat
impermeabel terhadap terlarut maka tidak ada kesetimbangan untuk μ terlarut. Untuk memperoleh
hubungan antara konsentrasi terlarut (dalam satuan kemolaran) dengan tekanan
osmotik maka digunakan pendekatan yang sama seperti dalam penurunan rumus kenaikan
titik didih. Sehingga persamaan menjadi:
Π = CRT atau Π = MRT
Π = CRT atau Π = MRT
Π
= wBRT/MBV atau MB = wBRT/ΠV
dengan C dan M adalah masing-masing
konsentrasi dan kemolaran larutan, wB adalah massa zat terlarut, dan MB adalah
massa molar zat terlarut. Konsentrasi C dapat diganti dengan kemolaran (mol per
liter) karena pengukuran tekanan osmotik biasanya dilakukan pada suhu tetap
sehingga untuk larutan encer kemolaran dan kemolalan dianggap bernilai sama.
Rumusan diatas hanya berlaku untuk larutan ideal encer dan dapat digunakan
dalam penerapan osmometri, yang paling umum adalah pengukuran massa molar
makromolekul (protein dan polimer sintetik). Ketika molekul-molekul besar ini
melarut menghasilkan larutan yang jauh lebih ideal, dianggap bahwa persamaan
van't hoff hanyalah suku pertama dari deret yang menyerupai persamaan varial:
Π = [M]RT { 1 + M[M] + . . . }
Π = [M]RT { 1 + M[M] + . . . }
suku-suku tambahan memperhitungkan
ketakidealan tersebut. Tekanan osmosis di ukur pada suatu konsentrasi dan alur
dari Π/[M] terhadap [M] digunakan untuk mengetahui massa molar M.
Osmosis
memiliki peranan penting dalam sistem kimia dan biologi. Osmosis adalah kasus
khusus dari transpor pasif, dimana molekul air berdifusi melewati membran yang
bersifat selektif permeabel. Dalam sistem osmosis, dikenal larutan hipertonik
(larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi), larutan hipotonik
(larutan dengan konsentrasi terlarut rendah), dan larutan isotonik (dua larutan
mempunyai konsentrasi terlarut sama). Jika terdapat dua larutan yang tidak sama
konsentrasinya, maka molekul air melewati membran sampai kedua larutan
seimbang. Dalam proses osmosis, pada larutan hipertonik, sebagian besar molekul
air terikat (tertarik) ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit
molekul air yang bebas dan bisa melewati membran untuk masuk ke larutan yang
memiliki konsentrasi terlarut lebih rendah. Sedangkan pada larutan hipotonik,
memiliki lebih banyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul
terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran untuk masuk
ke larutan yang memiliki konsentrasi terlarut lebih rendah. Oleh sebab itu,
dalam osmosis aliran netto molekul air adalah dari larutan hipotonik ke
hipertonik.
Proses osmosis juga terjadi pada sel hidup di alam. Perubahan bentuk sel terjadi jika terdapat pada larutan yang berbeda. Sel yang terletak pada larutan isotonik, maka volumenya akan konstan. Dalam hal ini, air (pelarut) yang masuk dan keluar dari sel memiliki jumlah yang sama besar. Banyak hewan-hewan laut, seperti bintang laut (Echinodermata) dan kepiting (Arthropoda) cairan selnya bersifat isotonik dengan lingkungannya. Jika sel terdapat pada larutan yang hipotonik, maka akan banyak air yang masuk ke dalam sel, sehingga menyebabkan lisis (pada sel hewan), atau turgiditas tinggi (pada sel tumbuhan). Sebaliknya, jika sel berada pada larutan hipertonik, maka banyak molekul air yang keluar dari sel, sehingga sel menjadi kecil dan dapat menyebabkan kematian. Pada hewan, untuk bisa bertahan dalam lingkungan yang hipo- atau hipertonik, maka diperlukan pengaturan keseimbangan air, yaitu dalam proses osmoregulasi.
Proses osmosis juga terjadi pada sel hidup di alam. Perubahan bentuk sel terjadi jika terdapat pada larutan yang berbeda. Sel yang terletak pada larutan isotonik, maka volumenya akan konstan. Dalam hal ini, air (pelarut) yang masuk dan keluar dari sel memiliki jumlah yang sama besar. Banyak hewan-hewan laut, seperti bintang laut (Echinodermata) dan kepiting (Arthropoda) cairan selnya bersifat isotonik dengan lingkungannya. Jika sel terdapat pada larutan yang hipotonik, maka akan banyak air yang masuk ke dalam sel, sehingga menyebabkan lisis (pada sel hewan), atau turgiditas tinggi (pada sel tumbuhan). Sebaliknya, jika sel berada pada larutan hipertonik, maka banyak molekul air yang keluar dari sel, sehingga sel menjadi kecil dan dapat menyebabkan kematian. Pada hewan, untuk bisa bertahan dalam lingkungan yang hipo- atau hipertonik, maka diperlukan pengaturan keseimbangan air, yaitu dalam proses osmoregulasi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Osmosis adalah proses perpindahan larutan yang memiliki konsentrasi rendah
melalui membran semipermeabel menuju larutan yang memiliki konsentrasi lebih
tinggi hingga tercapai kesetimbangan konsentrasi. Pada proses osmosis,
molekul-molekul pelarut bermigrasi dari larutan encer ke larutan yang lebih
pekat hingga dicapai keadaan kesetimbangan konsentrasi di antara kedua medium tersebut.
Tekanan
yang
diterapkan untuk menghentikan proses osmosis dari larutan encer atau pelarut
murni ke dalam larutan yang lebih pekat dinamakan tekanan osmotik larutan,
dilambangkan dengan π.
Osmosis
merupakan difusi air melintasi membran semipermeabel dari daerah dimana
air lebih banyak ke daerah dengan air yang lebih sedikit. Osmosis sangat ditentukan
oleh potensial kimia air atau potensial air , yang menggambarkan kemampuan
molekul air untuk dapat melakukan difusi. Sejumlah besar volume air akan
memiliki kelebihan energi bebas daripada volume yang sedikit, di bawah kondisi
yang sama.
3.2 Saran
Mempelajari
materi Tekanan Osmosis itu penting. Karena tekanan osmosis diterapkan dalam
kehisdupan sehari-hari. Contohnya saja seorang pasien di rumah sakit harus
diberi cairan infus. Sebenarnya apakah cairan infus tersebut?
Larutan
yang dimasukkan ke dalam tubuh pasian melalui pembuluh darah haruslah memiliki
tekanan yang sama dengan tekanan sel-sel darah. Apabila tekanan cairan infus
lebih tinggi maka cairan infus akan keluar dari sel darah. Prinsip kerja infuse
ini pada dasarnya adalah tekanan osmosis.
DAFTAR PUSTAKA
http://malamfajar.wordpress.com/2010/10/29/tekanan-osmosis/
