Pagi
yang mendung di bulan Agustus membuat Nay membuka memori yang hampir
terlupakan. Ia terbangun dari pembaringannya yang sangat nyaman, ketika pintu
kamarnya dibuka dari luar. Cahaya pagi mulai menerobos masuk saat pintu
perlahan-lahan terbuka lebar. Saat Nay mulai beranjak bangkit dari tempat
tidurnya, dilihatnya sosok wanita yang
menyodorkan ponselnya yang tak lain adalah ibunya.
“Halo,
siapa ini?” Ujar Nay saat menerima
telepon itu.
“
Kak Nay? Aku Yuan. Kakak, masih inget sama aku nggak?” terdengar suara gadis
dari seberang telepon.
Nay mencoba
mengingat nama itu. Nama yang tidak terasa asing baginya.
“Adik
koko Jovi?” Tebak Nay.
Saat
mengucapkan nama itu, entah mengapa memori yang hampir tidak pernah ia
buka tiba-tiba menyeruak begitu saja. Jovian, sahabatnya yang selalu menemani
masa kecilnya sekaligus laki-laki yang pernah ia sukai dulu. Nay ingat ia
selalu memanggilnya koko, panggilan khas kakak laki-laki bagi orang Tionghoa.
Terlebih lagi dia sangat dewasa untuk seumurannya.
“Iya
Kak. Kak Nay kok diam?” Tanya Yuan di seberang telepon
“Tidak kok. Yuan, mana koko Jovi?”
“Oh…
koko Jovi ya, Ntar Yuan ceritain semuanya. Kakak bisa temui Yuan di perkebunan,
tempat dulu kak Nay main bersama koko Jovi” Ujarnya mengakhiri pembicaraan.
Walau
Nay tidak pernah bertemu secara langsung dengan Yuan, tapi tebakannya benar
bahwa gadis itu adalah adik sahabatnya Jovian. Dulu Nay pernah mendengar cerita tentang Yuan.
***
Sekarang
Nay berjalan menelusuri masa lalu 10
tahun yang hampir terlupakan. Perkebunan
itu tak banyak berubah, masih sama seperti waktu dulu ketika Nay dan
Jovian sering bermain bersama. Hanya orang-orangnya saja yang berubah, sekarang
terasa asing baginya. Nay ingat dulu ia sering bersepeda bersama Jovian. Mereka
suka sekali berkeliling di sekitar perkebunan kelapa sawit itu. Perkebunan kelapa
sawit yang cukup luas di daerah Pelaihari, Tanah Laut. Terlebih lagi mereka
hampir mengenal seluruh orang-orang yang bekerja di perkebunan itu. Terkadang
mereka ikut membantu para pekerja kelapa sawit yang sedang bekerja. Hari-hari
yang indah dan penuh keceriaan mereka lalui bersama. Masa yang patut dikenang
untuk selamanya.
Begitulah,
perkebunan itu selalu bercerita tentang orang-orang yang mencari penghidupan
darinya. Seperti cerita persahabatan Nay dengan Jovian yang bermula dari
perkebunan itu. Menapaki jalan di perkebunan selangkah demi selangkah sambil
memandangi jejeran pohon kelapa sawit di perkebunan itu. Ia menanti saat
seperti dulu saat dimana ia bisa bertemu dengan Jovian.
Nay
mulai mempercepat langkahnya untuk segera sampai ke sebuah saung tempat para
pekerja biasa beristirahat.
‘Seperti
apa dia sekarang? Sudah lebih dari 10 tahun tidak bertemu. Bagaimana wajahnya
dan setinggi apa dia? Saat masih kecil, Jovian udah tinggi banget.’ Batin Nay
sambil membayangkan bagaimana wujud Jovian sekarang.
Dari
kejauhan Nay melihat ada sosok gadis mungil berambut panjang yang melambai ke
arahnya. Tubuhnya kecil. Begitu juga matanya, sipit. Bahkan saat ia tersenyum,
matanya bagaikan garis yang menghiasi wajahnya.
‘Apakah
senyum Jovian seperti senyum Yuan?’ Nay kembali membayangkan bagaimana wajah
Jovian sekarang.
“Kak
Nay!!!!” serunya.
“Yuan.
Yuannessa” ujar Nay dengan nada bertanya.
“Iya
kak, aku Yuan. Kakak kok lama banget sih? Makanya Yuan susul kakak kemari.
Ternyata benar ucapan koko Jovi, kakak sangat suka dengan perkebunan ini.”
Ujarnya dengan penuh keyakinan sembari menyusuri perkebunan kelapa sawit.
‘Jovian,
apa saja yang telah kamu ceritakan pada Yuan. Kenapa bukan kamu saja yang
menghubungiku. Paling tidak datang menemuiku di sini. Seperti dulu kamu yang
selalu menungguku di perkebunan bahkan di saung ini. Saat kita sama-sama pergi
ke sekolah. Bukankah kamu selalu melakukan hal itu untukku, sahabatku? Menunggu
dan menemaniku. Tapi ini pertama kalinya aku bertemu dengan Yuan. Kenapa dia
bisa sangat yakin aku Nay.’ Gerutu Nay dalam hati sambil berjalan mengikuti
langkah gadis yang berjalan di depannya.
“Nah…..
udah sampai” ujar Yuan memecah lamunan Nay.
“Kok
rumah ini? Bukannya kalian udah pindah? Dua tahun yang lalu aku pernah
kemari, tapi rumah ini sudah kosong,” kata Nay sambil memandang seisi rumah.
“Kenapa
nangis? Lebih baik main denganku. Mau? Ujar Yuan dengan nada membujuk.
“Taaappiii….”
ujar Nay sambil terisak
Nay
mengingat kembali kenangan masa lalunya bersama Jovian.
Seorang gadis kecil menangis karena
dimarahi ibunya. Hanya Jovian yang menyapa gadis kecil itu. Dia pun menghibur
gadis itu dengan mengajaknya bermain menyusuri perkebunan. Perkebunan yang
dipenuhi dengan suara kicauan burung yang saling bersahutan dan para pekerja
yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Itulah awal persahabatan mereka. Bahkan
mereka bersekolah di sekolah yang sama.
Setiap pagi, Jovian selalu menjemput
Nay di depan rumah. Dia dengan sabarnya menunggu Nay. Dia selalu melindungi Nay
dari kejahilan anak-anak yang biasa mengganggunya di sekolah. Banyak juga anak
perempuan yang naksir dengan Jovian. Karena posturnya yang tinggi dengan kulit
putih dan mata sipit. Nay pun diam-diam juga naksir Jovian. Karena mereka
sering menghabiskan waktu bersama sehingga perasaan di hati Nay pun mulai
tumbuh. Entah perasaan apa itu, ia juga tahu, yang pasti ia tidak ingin
kehilangan dan ingin terus bersama. Tapi Nay tidak mau merusak persahabatannya
dengan Jovian hanya karena perasaaan yang dimilikinya. Karena mereka berikrar
akan terus bersama dan menjadi sahabat selamanya.
“Ko Jovi, Nay mau pindah rumah sama
sekolah. Padahal Nay nggak mau pisah dari ko Jovi” ujar Nay sedih.
“Udah.. Kamu nggak boleh gitu. Nay,
harus nurut sama tante. Lagian Nay bisa datang kemari kapanpun Nay mau” ujar
Jovian sambil mengusap pipi Nay.
“iya ko Jovi, Nay nggak sedih lagi
kok. Makasih ya. Nanti Nay pasti akan sangat merindukan koko”.
“iya koko juga pasti akan sangat
merindukan Nay kalo Nay nggak ada disini lagi.”
Itulah pertemuan terakhir mereka.
Jovian tidak pernah lagi datang mengambil raport kenaikan kelas. Padahal dia
sudah berjanji akan datang. Nay menunggu dan terus menunggu hingga matahari
terbenam. Karena Nay pikir kali ini harus dia yang menunggu. Tapi penantiannya
tak berujung. ‘Kenapa kamu tidak pernah datang menemuiku? Bahkan aku belum
mengucapkan selamat tinggal sebagai ucapan perpisahan kita’ sesal Nay.
Nay
sadar itu semua hanya bagian dari masa lalunya bersama Jovian. Masa yang tidak
akan pernah bisa untuk ia lupakan.
Saat
mulai menyusun kepingan-kepingan kenangan persahabatannya dengan Jovian, Nay
terkejut tatkala sebuah surat bersampul biru yang hampir pudar warnanya
disodorkan padanya.
“Untuk
kak Nay” ujar Yuan dengan tersenyum.
“Untukku?”
Tanya Nay sambil menerima surat biru lusuh itu dengan heran.
“Bukanya
nanti aja. Kita harus menemui koko Jovi dulu” ujar Yuan sambil menarik tangan
Nay.
Banyak
pertanyaan yang hinggap dibenak Nay, tapi ia hanya mampu diam dan mengikuti
kemana langkah Yuan berakhir untuk menemui sahabatnya, Jovian. Rupanya mereka
pergi tidak jauh dari rumah Jovian. Perlahan-lahan Yuan mulai berhenti di depan
sebuah nisan. Nay merasa heran dan perlahan-lahan mendekati Yuan. Lalu
mengamati nisan itu.
Rasanya
langit akan runtuh. Sebuah nama yang sangat
ia kenal tergores dengan jelas di batu nisan itu. Nay tidak mampu
menahan air mata yang dengan mudahnya mengalir dari pipinya. Nay mulai menangis
bahkan tangisannya memecah kesunyian. Kakinya lemas. Tubuhnya mati rasa.
Sahabatnya yang ia tunggu sudah pergi meninggalkan dunia ini. Nay hanya bisa
terduduk lemas di depan nisan itu.
“Seperti
yang kakak lihat. Ini kuburan koko Jovi. Sebenarnya Yuan ingin menemui kakak,
saat kakak datang ke rumah dua tahun yang lalu. Tapi pesan koko Jovi untuk
terakhir kalinya, Yuan harus menemui kakak dibulan Agustus” ujarnya dengan mata
sayu. “Tapi pada bulan Agustus tahun
lalu Yuan nggak bisa menghubungi kakak. Maafin Yuan ya kak” lanjutnya.
‘Bulan
Agustus? Rupanya kamu masih ingat dengan jelas bulan yang menjadi awal
pertemuan kita dan awal dari persahabatan ini. Kamu bahkan mengakhirinya di bulan
yang sama. Di bulan ini aku juga berulang tahun. Dan yang lebih tragisnya lagi
hari ini adalah hari ulang tahunku. Sungguh tega kamu melakukan semua ini
padaku Jov..’ batin Nay masih dengan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
Di
depan nisan Jovian, Nay mulai menyobek pinggiran surat biru lusuh yang
diberikan Yuan. Lalu ia membuka lipatan kertas itu.
Dear
Naysilla, sahabatku
Saat
kamu membaca surat ini, berarti sahabatmu tidak bisa menepati janjinya. Maaf,
aku tidak bisa datang. Bahkan sampai detik ini, malah kamu yang datang
menemuiku. Saat itu, kakekku sedang sakit parah, aku harus pergi ke Jogja untuk
menjenguknya. Maaf aku tidak sempat memberitahumu. Nay, maaf kalau aku telah mengecewakanmu.
Aku hanya berharap kamu bisa memahami alasanku. Selamanya kau sahabat
terbaikku. Terima kasih untuk semuanya terutama persahabatan yang telah kamu
berikan kepadaku. Dan yang terakhir, ku ingin kamu tahu bahwa
aku menyayangimu.
Dari
sahabatmu.
Jovian
Jeremia Winarta
“Maaf
kak, Yuan baru ngasih tau kakak sekarang. Koko Jovi meninggal karena mengidap
kanker otak. Dia sebenarnya pengen banget ketemu sama kakak, tapi keadaannya nggak
memungkinkan untuk menemui kakak. Dia juga nggak mau kakak sedih karena
kondisinya saat itu. Waktu itu kami tinggal di Jogja, koko mempunyai permintaan
terakhir yaitu pergi ke perkebunan kelapa sawit. Papa dan mama akhirnya
memutuskan untuk mengabulkan permintaan terakhirnya itu. Saat berjalan-jalan
menyusuri perkebunan, walaupun dengan kursi roda yang aku dorongkan untuknya,
dia terlihat sangat bahagia, Keadaannya pun mulai sedikit membaik. Kami mulai
mempunyai harapan bahwa koko akan sembuh. Namun Tuhan berkehendak lain, tepat
di bulan Agustus Tuhan memanggilnya. Sebelum koko pergi dia menitipkan surat
itu pada Yuan dan ia berpesan agar Yuan memberikannya kepada kakak di bulan
Agustus” jelas Yuan dengan penuh sesal.
Setelah
mendengar penjelasan dari Yuan air mata Nay seakan terjatuh tak terkendali,
menetes dengan sendirinya dan menjatuhi kertas lusuh yang di pegangnya sehingga
membuat kertas itu menjadi basah. Tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya
dia terus menagis dan menangis.
“Kakak
sabar ya.. Yuan tau ini sangat berat buat kakak” Yuan berusaha menenangkan Nay.
Keharuan
terjadi ditengah-tengah suasana itu, diri Nay yang lemas tak bisa menopang tubuhnya.
Akhirnya Nay pun pingsan.
***
Nay
merasa hari-harinya saat ini seakan tak berarti, karena tak ada yang ia tunggu
lagi dan tak ada lagi seseorang yang harus ia sayangi. Terdiam, menangis, dan
menyendiri, itu saja yang ia lakukan setiap hari, bahkan ia sampai lupa makan
dan hal itu membawanya ke rumah sakit karena kondisinya semakin hari semakin
melemah.
“Kak
Nay kenapa? Kenapa bisa seperti ini kak?...” Melihat keadaan Nay yang masih terpasang
oleh oksigen dan infus air mata Yuan seakan tak terbendung.
“Aku
nggak mau kehilangan kakak setelah kehilangan koko Jovi. Koko Jovi akan
menangis kalau melihat kaka dengan keadaan seperti ini, ku mohon kakak bangun.”
Dengan berjuta-juta harapan Yuan mencoba membangunkan Nay yang sedang terbaring
lemah. Ibu Serta ayah Nay yang melihat itu hanya bisa menangis karena melihat
keadaan anaknya yang tak kunjung membaik.
Seakan
mendengar kata-kata Yuan, Nay mulai membuka matanya. Yuan, ibu, dan ayahnya pun
terkejut dan langsung menghampiri Nay. Sejak saat itu keadaan Nay
berangsur-angsur membaik, ia pun menjalani hari-harinya seperti biasa dengan di
temani Yuan, Nay mulai membuka lembaran barunya tanpa bayang-bayang Jovian yang
akan datang padanya, karena ia yakin kalau suatu hari nanti ia dan Jovian akan
bertemu walaupun di tempat yang berbeda dan dikesempatan berbeda. Karena Nay
selalu menanamkan bahwa Jovian adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki.
***
“Bu
Naysilla ini laporan keuangan perusahaan bulan ini” karyawannya menyodorkan map
berwarna merah kehadapannya.
“Taruh
di meja dulu deh pak, nanti saya periksa, saya mau ke perkebunan dulu” Naysilla
melangkahkan kakinya menuju keluar mengambil sepedanya dan mengayuh kearah
perkebunan kelapa sawit. Dia menikmati pemandangan jejeran pohon kelapa sawit dan
menikmati aroma masa lalunya bersama Jovian 15 tahun yang lalu, sesekali
Naysilla melemparkan senyuman kepada para pekerja yang menyapanya sepanjang
jalan. Naysilla mengayuh sepedanya lebih cepat dan tersenyum menatap anak-anak
yang sedang asyik bermain seperti dirinya dulu bersama Jovian, dan dia yakin
Jovian akan ikut tersenyum kepadanya sekarang walapun dia tak dapat melihatnya
lagi tapi tempat ini yang akan menjadi saksi bisu kenangan dan rindunya kepada
Jovian.

0 komentar:
Posting Komentar