Pages

Labels

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 27 Desember 2012

Agustus dan Kenangan


Pagi yang mendung di bulan Agustus membuat Nay membuka memori yang hampir terlupakan. Ia terbangun dari pembaringannya yang sangat nyaman, ketika pintu kamarnya dibuka dari luar. Cahaya pagi mulai menerobos masuk saat pintu perlahan-lahan terbuka lebar. Saat Nay mulai beranjak bangkit dari tempat tidurnya,  dilihatnya sosok wanita yang menyodorkan ponselnya yang tak lain adalah ibunya.
“Halo, siapa ini?” Ujar Nay  saat menerima telepon itu.
“ Kak Nay? Aku Yuan. Kakak, masih inget sama aku nggak?” terdengar suara gadis dari seberang telepon.
Nay mencoba mengingat nama itu. Nama yang tidak terasa asing baginya.
“Adik koko Jovi?” Tebak Nay.
Saat mengucapkan nama  itu, entah mengapa memori yang hampir tidak pernah ia buka tiba-tiba menyeruak begitu saja. Jovian, sahabatnya yang selalu menemani masa kecilnya sekaligus laki-laki yang pernah ia sukai dulu. Nay ingat ia selalu memanggilnya koko, panggilan khas kakak laki-laki bagi orang Tionghoa. Terlebih lagi dia sangat dewasa untuk seumurannya.
“Iya Kak. Kak Nay kok diam?” Tanya Yuan di seberang telepon
 “Tidak kok. Yuan, mana koko Jovi?”
“Oh… koko Jovi ya, Ntar Yuan ceritain semuanya. Kakak bisa temui Yuan di perkebunan, tempat dulu kak Nay main bersama koko Jovi” Ujarnya mengakhiri pembicaraan.
Walau Nay tidak pernah bertemu secara langsung dengan Yuan, tapi tebakannya benar bahwa gadis itu adalah adik sahabatnya Jovian. Dulu  Nay pernah mendengar cerita tentang Yuan.
                                                                    ***
Sekarang Nay berjalan menelusuri masa lalu 10  tahun yang hampir terlupakan. Perkebunan  itu tak banyak berubah, masih sama seperti waktu dulu ketika Nay dan Jovian sering bermain bersama. Hanya orang-orangnya saja yang berubah, sekarang terasa asing baginya. Nay ingat dulu ia sering bersepeda bersama Jovian. Mereka suka sekali berkeliling di sekitar perkebunan kelapa sawit itu. Perkebunan kelapa sawit yang cukup luas di daerah Pelaihari, Tanah Laut. Terlebih lagi mereka hampir mengenal seluruh orang-orang yang bekerja di perkebunan itu. Terkadang mereka ikut membantu para pekerja kelapa sawit yang sedang bekerja. Hari-hari yang indah dan penuh keceriaan mereka lalui bersama. Masa yang patut dikenang untuk selamanya.
Begitulah, perkebunan itu selalu bercerita tentang orang-orang yang mencari penghidupan darinya. Seperti cerita persahabatan Nay dengan Jovian yang bermula dari perkebunan itu. Menapaki jalan di perkebunan selangkah demi selangkah sambil memandangi jejeran pohon kelapa sawit di perkebunan itu. Ia menanti saat seperti dulu saat dimana ia bisa bertemu dengan Jovian.
Nay mulai mempercepat langkahnya untuk segera sampai ke sebuah saung tempat para pekerja biasa beristirahat.
‘Seperti apa dia sekarang? Sudah lebih dari 10 tahun tidak bertemu. Bagaimana wajahnya dan setinggi apa dia? Saat masih kecil, Jovian udah tinggi banget.’ Batin Nay sambil membayangkan bagaimana wujud Jovian sekarang.
Dari kejauhan Nay melihat ada sosok gadis mungil berambut panjang yang melambai ke arahnya. Tubuhnya kecil. Begitu juga matanya, sipit. Bahkan saat ia tersenyum, matanya bagaikan garis yang menghiasi wajahnya.
‘Apakah senyum Jovian seperti senyum Yuan?’ Nay kembali membayangkan bagaimana wajah Jovian sekarang.
“Kak Nay!!!!” serunya.
“Yuan. Yuannessa” ujar Nay dengan nada bertanya.
“Iya kak, aku Yuan. Kakak kok lama banget sih? Makanya Yuan susul kakak kemari. Ternyata benar ucapan koko Jovi, kakak sangat suka dengan perkebunan ini.” Ujarnya dengan penuh keyakinan sembari menyusuri perkebunan kelapa sawit.
‘Jovian, apa saja yang telah kamu ceritakan pada Yuan. Kenapa bukan kamu saja yang menghubungiku. Paling tidak datang menemuiku di sini. Seperti dulu kamu yang selalu menungguku di perkebunan bahkan di saung ini. Saat kita sama-sama pergi ke sekolah. Bukankah kamu selalu melakukan hal itu untukku, sahabatku? Menunggu dan menemaniku. Tapi ini pertama kalinya aku bertemu dengan Yuan. Kenapa dia bisa sangat yakin aku Nay.’ Gerutu Nay dalam hati sambil berjalan mengikuti langkah gadis yang berjalan di depannya.
“Nah….. udah sampai” ujar Yuan memecah lamunan Nay.
“Kok rumah  ini? Bukannya kalian udah pindah? Dua tahun yang lalu aku pernah kemari, tapi rumah ini sudah kosong,” kata Nay sambil memandang seisi rumah.
“Kenapa nangis? Lebih baik main denganku. Mau? Ujar Yuan dengan nada membujuk.
“Taaappiii….” ujar Nay sambil terisak
Nay mengingat kembali kenangan masa lalunya bersama Jovian.
Seorang gadis kecil menangis karena dimarahi ibunya. Hanya Jovian yang menyapa gadis kecil itu. Dia pun menghibur gadis itu dengan mengajaknya bermain menyusuri perkebunan. Perkebunan yang dipenuhi dengan suara kicauan burung yang saling bersahutan dan para pekerja yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Itulah awal persahabatan mereka. Bahkan mereka bersekolah di sekolah yang sama.
Setiap pagi, Jovian selalu menjemput Nay di depan rumah. Dia dengan sabarnya menunggu Nay. Dia selalu melindungi Nay dari kejahilan anak-anak yang biasa mengganggunya di sekolah. Banyak juga anak perempuan yang naksir dengan Jovian. Karena posturnya yang tinggi dengan kulit putih dan mata sipit. Nay pun diam-diam juga naksir Jovian. Karena mereka sering menghabiskan waktu bersama sehingga perasaan di hati Nay pun mulai tumbuh. Entah perasaan apa itu, ia juga tahu, yang pasti ia tidak ingin kehilangan dan ingin terus bersama. Tapi Nay tidak mau merusak persahabatannya dengan Jovian hanya karena perasaaan yang dimilikinya. Karena mereka berikrar akan terus bersama dan menjadi sahabat selamanya.
“Ko Jovi, Nay mau pindah rumah sama sekolah. Padahal Nay nggak mau pisah dari ko Jovi” ujar Nay sedih.
“Udah.. Kamu nggak boleh gitu. Nay, harus nurut sama tante. Lagian Nay bisa datang kemari kapanpun Nay mau” ujar Jovian sambil mengusap pipi Nay.
“iya ko Jovi, Nay nggak sedih lagi kok. Makasih ya. Nanti Nay pasti akan sangat merindukan koko”.
“iya koko juga pasti akan sangat merindukan Nay kalo Nay nggak ada disini lagi.”
Itulah pertemuan terakhir mereka. Jovian tidak pernah lagi datang mengambil raport kenaikan kelas. Padahal dia sudah berjanji akan datang. Nay menunggu dan terus menunggu hingga matahari terbenam. Karena Nay pikir kali ini harus dia yang menunggu. Tapi penantiannya tak berujung. ‘Kenapa kamu tidak pernah datang menemuiku? Bahkan aku belum mengucapkan selamat tinggal sebagai ucapan perpisahan kita’ sesal Nay.
Nay sadar itu semua hanya bagian dari masa lalunya bersama Jovian. Masa yang tidak akan pernah bisa untuk ia lupakan.
Saat mulai menyusun kepingan-kepingan kenangan persahabatannya dengan Jovian, Nay terkejut tatkala sebuah surat bersampul biru yang hampir pudar warnanya  disodorkan padanya.
“Untuk kak Nay” ujar Yuan dengan tersenyum.
“Untukku?” Tanya Nay sambil menerima surat biru lusuh itu dengan heran.
“Bukanya nanti aja. Kita harus menemui koko Jovi dulu” ujar Yuan sambil menarik tangan Nay.
Banyak pertanyaan yang hinggap dibenak Nay, tapi ia hanya mampu diam dan mengikuti kemana langkah Yuan berakhir untuk menemui sahabatnya, Jovian. Rupanya mereka pergi tidak jauh dari rumah Jovian. Perlahan-lahan Yuan mulai berhenti di depan sebuah nisan. Nay merasa heran dan perlahan-lahan mendekati Yuan. Lalu mengamati nisan itu.
Rasanya langit akan runtuh. Sebuah nama yang sangat  ia kenal tergores dengan jelas di batu nisan itu. Nay tidak mampu menahan air mata yang dengan mudahnya mengalir dari pipinya. Nay mulai menangis bahkan tangisannya memecah kesunyian. Kakinya lemas. Tubuhnya mati rasa. Sahabatnya yang ia tunggu sudah pergi meninggalkan dunia ini. Nay hanya bisa terduduk lemas di depan nisan itu.
“Seperti yang kakak lihat. Ini kuburan koko Jovi. Sebenarnya Yuan ingin menemui kakak, saat kakak datang ke rumah dua tahun yang lalu. Tapi pesan koko Jovi untuk terakhir kalinya, Yuan harus menemui kakak dibulan Agustus” ujarnya dengan mata sayu.  “Tapi pada bulan Agustus tahun lalu Yuan nggak bisa menghubungi kakak. Maafin Yuan ya kak” lanjutnya.
‘Bulan Agustus? Rupanya kamu masih ingat dengan jelas bulan yang menjadi awal pertemuan kita dan awal dari persahabatan ini. Kamu bahkan mengakhirinya di bulan yang sama. Di bulan ini aku juga berulang tahun. Dan yang lebih tragisnya lagi hari ini adalah hari ulang tahunku. Sungguh tega kamu melakukan semua ini padaku Jov..’ batin Nay masih dengan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
            Di depan nisan Jovian, Nay mulai menyobek pinggiran surat biru lusuh yang diberikan Yuan. Lalu ia membuka lipatan kertas itu.

Dear Naysilla, sahabatku
Saat kamu membaca surat ini, berarti sahabatmu tidak bisa menepati janjinya. Maaf, aku tidak bisa datang. Bahkan sampai detik ini, malah kamu yang datang menemuiku. Saat itu, kakekku sedang sakit parah, aku harus pergi ke Jogja untuk menjenguknya. Maaf aku tidak sempat memberitahumu. Nay, maaf kalau aku telah mengecewakanmu. Aku hanya berharap kamu bisa memahami alasanku. Selamanya kau sahabat terbaikku. Terima kasih untuk semuanya terutama persahabatan yang telah kamu berikan kepadaku. Dan yang terakhir, ku ingin kamu tahu bahwa aku menyayangimu.
Dari sahabatmu.
Jovian Jeremia Winarta

“Maaf kak, Yuan baru ngasih tau kakak sekarang. Koko Jovi meninggal karena mengidap kanker otak. Dia sebenarnya pengen banget ketemu sama kakak, tapi keadaannya nggak memungkinkan untuk menemui kakak. Dia juga nggak mau kakak sedih karena kondisinya saat itu. Waktu itu kami tinggal di Jogja, koko mempunyai permintaan terakhir yaitu pergi ke perkebunan kelapa sawit. Papa dan mama akhirnya memutuskan untuk mengabulkan permintaan terakhirnya itu. Saat berjalan-jalan menyusuri perkebunan, walaupun dengan kursi roda yang aku dorongkan untuknya, dia terlihat sangat bahagia, Keadaannya pun mulai sedikit membaik. Kami mulai mempunyai harapan bahwa koko akan sembuh. Namun Tuhan berkehendak lain, tepat di bulan Agustus Tuhan memanggilnya. Sebelum koko pergi dia menitipkan surat itu pada Yuan dan ia berpesan agar Yuan memberikannya kepada kakak di bulan Agustus” jelas Yuan dengan penuh sesal.
Setelah mendengar penjelasan dari Yuan air mata Nay seakan terjatuh tak terkendali, menetes dengan sendirinya dan menjatuhi kertas lusuh yang di pegangnya sehingga membuat kertas itu menjadi basah. Tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya dia terus menagis dan menangis.
“Kakak sabar ya.. Yuan tau ini sangat berat buat kakak”  Yuan berusaha menenangkan Nay.
Keharuan terjadi ditengah-tengah suasana itu, diri Nay yang lemas tak bisa menopang tubuhnya. Akhirnya Nay pun pingsan.

                                                                 ***

Nay merasa hari-harinya saat ini seakan tak berarti, karena tak ada yang ia tunggu lagi dan tak ada lagi seseorang yang harus ia sayangi. Terdiam, menangis, dan menyendiri, itu saja yang ia lakukan setiap hari, bahkan ia sampai lupa makan dan hal itu membawanya ke rumah sakit karena kondisinya semakin hari semakin melemah.
“Kak Nay kenapa? Kenapa bisa seperti ini kak?...” Melihat keadaan Nay yang masih terpasang oleh oksigen dan infus air mata Yuan seakan tak terbendung.
“Aku nggak mau kehilangan kakak setelah kehilangan koko Jovi. Koko Jovi akan menangis kalau melihat kaka dengan keadaan seperti ini, ku mohon kakak bangun.” Dengan berjuta-juta harapan Yuan mencoba membangunkan Nay yang sedang terbaring lemah. Ibu Serta ayah Nay yang melihat itu hanya bisa menangis karena melihat keadaan anaknya yang tak kunjung membaik.
Seakan mendengar kata-kata Yuan, Nay mulai membuka matanya. Yuan, ibu, dan ayahnya pun terkejut dan langsung menghampiri Nay. Sejak saat itu keadaan Nay berangsur-angsur membaik, ia pun menjalani hari-harinya seperti biasa dengan di temani Yuan, Nay mulai membuka lembaran barunya tanpa bayang-bayang Jovian yang akan datang padanya, karena ia yakin kalau suatu hari nanti ia dan Jovian akan bertemu walaupun di tempat yang berbeda dan dikesempatan berbeda. Karena Nay selalu menanamkan bahwa Jovian adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki.

                                                       ***
“Bu Naysilla ini laporan keuangan perusahaan bulan ini” karyawannya menyodorkan map berwarna merah kehadapannya.
“Taruh di meja dulu deh pak, nanti saya periksa, saya mau ke perkebunan dulu” Naysilla melangkahkan kakinya menuju keluar mengambil sepedanya dan mengayuh kearah perkebunan kelapa sawit. Dia menikmati pemandangan jejeran pohon kelapa sawit dan menikmati aroma masa lalunya bersama Jovian 15 tahun yang lalu, sesekali Naysilla melemparkan senyuman kepada para pekerja yang menyapanya sepanjang jalan. Naysilla mengayuh sepedanya lebih cepat dan tersenyum menatap anak-anak yang sedang asyik bermain seperti dirinya dulu bersama Jovian, dan dia yakin Jovian akan ikut tersenyum kepadanya sekarang walapun dia tak dapat melihatnya lagi tapi tempat ini yang akan menjadi saksi bisu kenangan dan rindunya kepada Jovian.

0 komentar:

Posting Komentar